PPID Utama Kota Bandung Menggelar Workshop Keterbukaan Informasi Publik Bagi Sub PPID Pembantu Satuan Kerja Pendidikan

Diskominfo- PPID

 

PPID Kota Bandung menggelar acara Workshop Keterbukaan Informasi Publik bagi Sub PPID Pembantu (SD dan SMP Negeri) Tahun 2018 pada Rabu-Jumat (14-16/03) di Laut Biru Hotel, Kab Pangandaran.

 

 

Pada Workshop Keterbukaan Informasi Publik bagi Sub PPID Pembantu, hadir Kepala Bidang Diseminasi Informasi pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung, Dra. Eli Harliani, M.Si didampingi Kepala Seksi Penguatan Keterbukaan Informasi Publik, Yusuf Cahyadi, SH memberikan pengarahan kepada para Guru peserta Workshop Keterbukaan Informasi Publik bagi Sub PPID Pembantu.

 

 

Dalam sambutannya, Kepala Bidang Diseminasi Informasi menyampaikan pemerintah Kota Bandung berharap kegiatan ini menjadi sarana bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, sehingga menambah ilmu pengetahuan, wawasan  dan keterampilan para peserta dalam menyikapi tuntutan keterbukaan informasi publik, dengan tujuan mencapai pemerintah yang terbuka atau open governance yang berkeadilan, akuntabel, baik dan bersih, sekaligus mewujudkan  pelayanan informasi prima, merupakan wujud demokratisasi pemerintahan yang dapat melahirkan kepercayaan publik, guna mendorong pemenuhan hak terhadap akses informasi publik tanpa melalui proses sengketa. Hal ini penting untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas, selain tentunya melaksanakan amanat undang-undang nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik.

 

 

Ia pun menambahkan berbagai ketentuan tentang infor-masi publik, dari mulai undang-undang hingga peraturan pemerintah yang direalisasikan dalam bentuk peraturan atau keputusan wali kota,  merupakan payung hukum bagi masyarakat untuk memperoleh haknya, sekaligus kewajiban badan publik seperti lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif, serta lembaga-lembaga lain yang dibiayai apbd dan apbn,  termasuk di dalamnya sekolah, untuk menyediakan dan melayani permohonan informasi secara cepat, tepat, biaya ringan dan dengan cara yang sederhana, dengan kekecualian pada informasi yang bersifat ketat dan terbatas.

 

“fenomena ini harus disikapi oleh jajaran aparatur pemerintah kota bandung dengan melaksanakan tugas secara optimal, termasuk pengelolaan informasi terkait tupoksi agar mudah diakses oleh siapapun yang membutuhkan, sesuai komitmen untuk mewujudkan birokrasi pemerintah yang profesional.” Lanjutnya.

 

 

Pada kesempatan yang sama, Kepala Seksi Penguatan Keterbukaan Informasi Publik pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung, Yusuf Cahyadi, SH menjelaskan garis besar dari tujuan kegiatan Workshop Keterbukaan Informasi Publik bagi Sub PPID Pembantu ini yaitu melihat perkembangan pelayanan para petugas PPID di Sekolah dan memberikan bekal pembentukan Daftar Informasi Publik yang ada di sekolah. Selain itu, memetakan penerapan undang-undang keterbukaan informasi publik di Sub PPID Pembantu Satker Pendidikan (SMP) dan (SD) di lingkungan Pemerintah Kota Bandung.

 

 

“PPID Kota Bandung sangat mengapresiasi pada Sub PPID Pembantu Satker Pendidikan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan Workshop Keterbukaan Informasi Publik ini. Hal ini dapat dijadikan indikasi yang baik bahwa kegiatan ini akan menambah wawasan dan pengetahuan mengenai keterbukaan informasi publik di sekolah”. ujarnya.

 

PPID Kota Bandung

Penjabat Wali Kota: Musrenbang Kota Bandung 2018 Sangat Strategis

Diskominfo – PPID

 

Jika pembangunan hanya dilakukan oleh pemerintah maka efektivitasnya hanya 15% saja. Oleh karena itu, partisipasi dan kolaborasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam pembangunan.

 

Hal itu diungkapkan oleh Penjabat (Pj.) Wali Kota Bandung Muhamad Solihin saat membuka Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kota Bandung di Grand Pasundan Hotel, Jumat (9/3/2018).

 

“Kita tidak bisa mengandalkan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) saja. APBD Kota Bandung itu terlalu kecil untuk melaksanakan seluruh pembangunan di Kota Bandung, maka kita perlu melibatkan seluruh pihak untuk terlibat dalam pembangunan,” jelas Solihin.

 

Oleh karenanya, Solihin sangat berharap Musrenbang kali ini bisa betul-betul mengakomodasi semua kebutuhan masyarakat sekaligus melibatkan mereka dalam pembangunan. Terlebih lagi, Musrenbang ini sangat strategis bagi pembangunan.

 

“Musrenbang tahun ini menurut saya sangat strategis karena akan memberikan jalan bagi wali kota terpilih untuk mengetahui apa yang diinginkan dan dirancang oleh masyarakat,” jelasnya.

 

Oleh sebab itu, para calon Wali Kota Bandung hendaknya memperhatikan hasil Musrenbang ini sebagai bentuk aspirasi dari warga. Solihin berharap wali kota terpilih bisa mewujudkan harapan-harapan tersebut.

 

Musrenbang Kota Bandung tahun 2018 mengangkat tema “Menuju Masyarakat Kota Bandung yang Mandiri dan Berdaya Saing melalui Pembangunan Infrastruktur, Peningkatan dan Pengembangan Ekonomi, Daya Beli, serta Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik.” Pada Musrenbang ini, sebanyak 5.091 usulan telah dimasukkan dari forum RW, kelurahan, dan kecamatan.

 

Dari jumlah tersebut, ada 152 usulan yang ditolak karena berbagai hal, serta ada 4.939 usulan yang masih diverifikasi oleh petugas hingga RKPD disahkan pada bulan Mei mendatang.

 

Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya. Usulan yang ditujukan kepada 9 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) itu diajukan senilai Rp 1,18 triliun.

 

Sementara itu, Plh. Sekretaris Daerah Kota Bandung, Evi S. Shaleha menuturkan, Musrenbang ini telah melalui berbagai tahapan, mulai dari Rembug Warga pada 12-23 Januari 2018, Musrenbang Kelurahan pada 12-21 Februari 2018, Musrenbang Kecamatan pada 24-28 Februari 2018, hingga Forum Gabungan yang digelar pada 1 Maret 2018 lalu.

 

“Pada Musrenbang ini tiap RW bisa menginput usulan berdasarkan kamus usulan yang kemudian diverifikasi secara berjenjang oleh perangkat daerah. Diharapkan proses perencanaan partisipatif akan semakin meningkat dengan kualitas usulan dan kepastian akomodasi dari sistem e-musrenbang yang telah diberlakukan,” jelas Evi.

 

Ia menyatakan, pada 2019 akan menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kota Bandung, terlebih lagi karena akan dipimpin oleh pemimpin baru. Namun ia tidak khawatir selama seluruh komponen pemerintah dan masyarakat saling membantu dalam membangun kota.

 

“2019 adalah tahun yang akan penuh dinamika, perubahan kebijakan nasional yang harus kita respon dengan perubahan yang cukup substansial akan memberi tambahan pekerjaan rumah yang tidakk mudah. Namun Pemerintah Kota Bandung merasa berbesar hati karena memperoleh dukungan dari seluruh pihak dengan semangat kolaboratif untuk keberhasilan pembangunan di Kota Bandung,” ujar Evi.

 

 

KABAG HUMAS SETDA KOTA BANDUNG

 

YAYAN A. BRILLYANA

Pemkot Berusaha Berikan Jalan Terbaik Untuk Warga Taman Sari

Diskominfo – PPID

 

Penjabat Wali Kota Bandung, Muhamad Solihin menegaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung  akan memberikan jalan terbaik untuk warga terkait dengan rencana pembangunan rumah deret Tamansari. Pemkot Bandung meyakini, pembangunan selalu bertujuan mensejahterakan warga bukan sebaliknya.

 

“Kita harus memposisikan sebagai Pemerintah setiap pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah tidak untuk menyengsarakan rakyatnya dan pasti ingin mensejahterakan rakyatnya termasuk pembangunan rumah deret Tamansari,” tutur Solihin usai mengikuti Rapat Paripurna Penyampaian Raperda di Gedung DPRD Kota Bandung ,Kamis (8/3/2018).

 

Hal ini terkait dengan masih adanya beberapa warga yang belum berkenan dengan pembangunan rumah deret Tamansari. Solihin mengingatkan, perbedaan pendapat dalam sebuah proses pasti selalu ada. Oleh karenanya, Pemkot Bandung menganggap hal tersebut sebagai dinamika proses pembangunan.

 

“Saya lihat ini sebagai sebuah dinamika pembangunan ke arah yang lebih baik , mungkin ini hanya masalah komunikasi dengan sebagian masyarakat yang menempati di sana,” ujar Solihin.

 

Menurut Solihin, lahan yang digunakan untuk pembangunan rumah deret merupakan milik Pemkot Bandung. Sebagai pemilik, Pemkot Bandung ingin kawasan tersebut ditata menjadi perumahan yang lebih layak, khususnya bagi warga Tamansari.

 

“Sebenarnya semua masyarakat di Kota Bandung ingin memiliki tempat tinggal yang layak  dan ini juga hal yang diinginkan oleh Pemkot Bandung,” jelasnya.

 

Terkait dengan permasalahan antara warga dengan pengembang, pria yang murah senyum dan ramah ini mengatakan, sudah memanggil Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan pengembang untuk berkoordinasi dan melakukan pendekatan dengan warga di Tamansari.

 

“Kalau saya lihat, ini bukan arogan. Pengembang hanya berusaha untuk bisa menepati janji pada Pemkot Bandung untuk menyelesaikan pekerjaanya sesuai dengan perjanjiannya tepat waktu. Apalagi sekarang ini musim hujan,” papar Solihin.

 

Terlepas dari masalah yang terjadi belakangan ini, Solihin meminta pengembang melakukan pendekatan manusiawi terhadap warga yang belum setuju terhadap pembangunan rumah deret Tamansari. Tak hanya pengembang, Pemkot Bandung juga akan melakukan pendekatan kepada warga.

 

“Mungkin kita harus memberikan penjelasan yang lebih detail. Ke depan harus ada pertemuan yang lebin intens,” katanya.

 

Dari catatannya, sebanyak 180 Kepala Keluarga yang setuju pembangunan rusun akan tetap berjalan. Sedangkan 15 Kepala Keluarga yang kurang berkenan akan sesuai proses menunggu pengadilan.

 

“Ya warga yang setuju juga ingin sesegera mungkin menempati tempat tinggalnya agar bisa beraktivitas lagi. Sedangkan yang kurang berkenan, lahannya juga tidak bisa digunakan lagi. Jadi ya kita lakukan yang sesuai saja,” tegas Solihin.

 

 

KABAG HUMAS SETDA KOTA BANDUNG

 

YAYAN A BRILLYANA

Hari Perempuan Internasional: Ini Empat Perempuan Juara Kota Bandung

Diskominfo – PPID

 

Pada 8 Maret dunia memperingatinya sebagai Hari Perempuan Internasional.  Salah satu tujuan diperingatinya Hari Perempuan yaitu untuk mencapai kesetaraan gender secara utuh oleh perempuan di seluruh dunia.

 

Di Kota Bandung, perempuan telah memiliki tempat tersendiri. Perempuan telah memberikan kontribusi yang besar untuk Kota Bandung. Tanpa dukungan perempuan, hampir dipastikan Kota Bandung tak bisa menjadi seperti saat ini.

 

Berikut Humas Setda Kota Bandung tampilkan 4 perempuan dari jutaan perempuan juara yang telah berkontribusi untuk Kota Bandung:

 

  1. Jesy Salah (Linmas Satpol PP)

 

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) merupakan sebagai garda terdepan penegak Peraturan Daerah (Perda). Salah satu yang paling sering disorot yaitu penegakan Perda K3. Tak jarang, Satpol PP Kota Bandung harus bergesekan dengan para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang dinilai melanggar Perda K3.

 

Namun berkat keramahan, senyum, serta paras cantik menjadi jurus luluhkan hati para pelanggar.  Itu juga yang sering harus dilakoni oleh Jesy Salah (32). Kecintaanya terhadap Kota Bandung membuatnya bangga menjadi anggota Linmas Satpol PP. Linmas Satpol PP adalah orang yang direkrut untuk membantu tugas-tugas Satpol PP.

 

“Tak jarang saat kita akan melakukan penertiban, malah dimarah-marahi. Tetapi itu saya jalani dan nikmati saja. Saya jadi punya banyak teman dan pengalaman yang berharga saat menghadapi orang,” kata Jesy jebolan Politeknik Kesehatan yang kini tengah bersemangat menempuh jenjang pendidikan S1.

 

  1. Mimin (Petugas Kebersihan)

 

Mimin (36)  adalah salah satu dari banyaknya petugas penyapu jalan di Kota Bandung. Banyak kisah selama hampir 2 tahun menjadi penyapu jalan. Dari terserempet motor hingga dimaki warga.

 

Mimin bertugas menyapu kawasan alun alun kota Bandung ini bekerja dari pukul 13.00 WIB hingga 17.00 WIB. Ia masih sering menemui warga yang buang sampah sembarangan. Padahal sudah jelas Ia sedang menyapu untuk membersihkan sampah di jalan.

 

“Masih banyak yang suka buang sampah, kalau keliatan saya tegur baik-baik, tapi kadang ada juga yang malah balik memarahi saya. Ada juga yang ketika ditegur langsung mengambil kembali sampahnya dan membuang pada tempatnya,” cerita ibu tiga anak ini.

 

Baginya, ada rasa kepuasan tersendiri jika melihat kawasan Alun-alun bersih dan didatangi banyak orang.  Apalagi, pekerjaan yang ditekuninya saat ini mampu membantu kehidupannya sehari-hari..

 

“Jadi semangat kalau melihat orang lain senang datang ke Alun-alun,” akunya.

 

  1. Widia Supandi (Guru SD Dewi Sartika).

 

SD Dewi Sartika, Balonggede di Jalan Kautamaan Istri No. 12 sebenarnya sekolah umum biasa.. Namun, di sekolah ini sekitar 60 persen siswanya difabel. Hal ini seperti yang dicita-citakan oleh Dewi Sartika saat mendirikan sekolah istri sekitar 113 tahun yang lalu. Semua anak berhak memperoleh pendidikan yang setara.

 

Hal itu juga yang sepertinya menginsiprasi Widia untuk terus mengayomi siswa-siswanya di SD Dewi Sartika. Dengan kesabaran dan ketekunannya, Widia mendidik siswa-siswa difabel.

 

“Mengajar memang panggilan hati bagi saya,” kata Widia.

 

Widia mengaku, tidak mengalami banya kendala saat mengajar para siswanya. Ia hanya perlu menyesuaikan dengan materi yang dinilainya bias diikuti oleh peserta didiknya.

 

“Siswa difabel mampu melakukan hal sama, hanya caranya yang berbeda. Tentunya kita harus lebih banyak bersabar. Kita harus paham cara mereka memahami,” ungkapnya.

 

Widia hanya berharap, hal yang diberikan olehnya bisa bermanfaat bagi anak-anak didiknya di masa yang akan datang.

 

  1. Ayu (Tour Guide Bandros)

 

Saat ini, salah satu yang sering jadi bahan perbincangan wisatawan lokal yaitu Bandung Tour on Bus (Bandros).  Salah satu tour guide Bandros yaitu Ayu. Ia mengaku sangat menikmati menjadi pemandu wisata di bus Bandros.

 

“Alhamdulillah saya hobinya ngecebrek (cuap-cuap) jadi saya menikmati pekerjaan ini,” ungkapnya di sela rehatnya di kawasan Alun-alun Kota Bandung.

 

Interaksi dengan orang baru serta membuat orang lain senang menjadi kebanggan tersendiri bagi ayu untuk terus semangat dalam bekerja.

 

“Ya selalu ketemu orang baru. Pastinya kita harus membuat orang lain senang naik Bandros dan bukan menjadi bete. Kalau orang lain senang, ada kepuasan tersendiri bagi saya,” kata Ayu.

 

Selain empat perempuan tadi, banyak perempuan juara lainnya yang kini bekerja untuk Pemkot Bandung. Belum lagi, Pemkot Bandung memiliki banyak program pemberdayaan perempuan khususnya di bidang ekonomi. Di antaranya Program peningkatan perluasan jaringan usaha dan akses permodalan bagi perempuan melalui pengembangan koperasi wanita dan pendidikan kemasyarakatan produktif. Perempuan Kota Bandung, juara!

 

 

 

KABAG HUMAS SETDA KOTA BANDUNG

 

YAYAN A. BRILYANA

Mampu Tingkatkan Kualitas Hidup, Solihin Apresiasi Peran Ibu

Diskominfo – PPID

 

Kaum ibu Kota Bandung diminta untuk terus meningkatkan kualitas hidupnya. Salah satunya dengan mengikuti program Pengendalian Keluarga Berencana.

 

Hal itu diungkapkan Penjabat Wali Kota Bandung, Muhamad Solihin saat acara  Survei Dampak Program Pengendalian Keluarga Berencana di Aula Kantor Kecamatan Ujungberung Kota Bandung, Selasa (6/3/2018).

 

“Peran ibu-ibu menjadi sentral dan signifikan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga yang baik. Sangat tidak mudah untuk menjadi ibu. Saya sangat berterimakasih kepada ibu-ibu atas perannya,” kata Solihin.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Bandung, Edi Marwoto mengatakan, hasil  Analisa dampak pengendalian keluarga memiliki  empat tantangan yang harus dikelola dengan baik. Hal itu perlu dirumuskan dengan baik agar bisa terselesaikan.

 

“Kemiskinan, Kesenjangan  sosial, Kesehatan ibu dan keluarga, serta serta perlunya Edukasi dan informasi positif atas dampak pengendalian ini masih menjadi tantangan  yang perlu kita selesaikan bersama,” ungkap Edi.

 

Untuk itu, Edi mengajak warga di kecamatan Ujungberung terus menggelorakan Kampanye Pengendalian Keluarga (KB) dengan tujuan positif.

 

“Dua anak lebih baik, lebih terkelola dan akan lebih sejahtera tentunya. Jadi anggapan banyak anak banyak rezeki itu kita tinggalkan,” ujarnya.

 

Edi menyatakan, peran serta  keluarga dapat menguatkan kehidupan ekonomi serta  aspek-aspek kehidupan lainnya. Itulah sebabnya, pembangunan bangsa harus berawal dari keluarga.

 

“Pembangunan bangsa berawal dari keluarga. Ketika keluarga terkelola dengan baik, bangsa ini akan maju. Mari kita berkomitmen untuk mengengola keluarga kita dengan baik,” tuturnya.

 

 

KABAG HUMAS SETDA KOTA BANDUNG

 

YAYAN A. BRILYANA

Warga Cijawura Turun Tangan Bersihkan Sungai Cicadas Baru

Diskominfo – PPID

 

Ratusan warga, anak sekolah, aparatur kewilayahan, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) berkolaborasi membersihkan kali Cicadas Baru yang melintasi Kelurahan Cijawura Kecamatan Buahbatu dan Kelurahan Mekarjaya Kecamatan Rancasari Kota Bandung, Sabtu (24/2/2018). Semua turun tangan memunguti sampah di bibir dan aliran sungai.

 

Sungai sepanjang 1,5 km itu dibersihkan hingga ke perbatasan kota yang ditandai dengan jalan tol Purbaleunyi. Setidaknya, sekitar 400 orang melaksanakan kerja bakti itu.

 

Penjabat Wali Kota Bandung, Muhamad Solihin yang turut hadir di kegiatan tersebut menuturkan bahwa ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengurangi limbah yang berpotensi mengalir ke Sungai Citarum dan anak sungainya. Untuk itu, Pemkot Bandung dan warga bahu membahu membersihkannya.

 

“Karena kebersihan itu kan harus kita jaga bersama, dan ini bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama seluruh elemen masyarakat, instansi vertikal, dan kita dibantu oleh jajaran TNI dan kepolisian,” ungkap Solihin.

 

Menurutnya, di samping sebagai rangkaian Hari Peduli Sampah Nasional, kegiatan ini merupakan cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kebersihan.  Setelah kegiatan ini, diharapkan tidak ada lagi yang membuang sampah ke sungai. Bahkan ia berharap, warga bisa menjadi agen yang menjaga kebersihan sungai.

 

“Keterlibatan masyarakat sangat bagus dan kuat. Ini yang harus terus kita pelihara dengan baik supaya kalau program ini, warga sudah terbiasa hidup dengan linkungan yang bersih dan sehat,” katanya.

 

Hal tersebut diamini oleh Komandan Sektor Citarum Harum 22 Wilayah Kota Bandung, Kol. Inf. Asep Rahman Taufik. Timnya akan terus mendampingi masyarakat hingga program Citarum Harum tuntas.

 

“Sejalan dengan pencanangan Pak Jokowi (Presiden RI) itu tujuh tahun untuk Citarum itu kembali sehat,” ujarnya.

 

Kerja bakti masal dan edukasi anak sekolah ini merupakan rangkaian Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati setiap tanggal 21 Februari. Pemerintah pusat mencanangkan program 3 bulan bersih sampah mulai 21 Januari sampai 21 April 2018.

 

Untuk mendukung program itu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan menggulirkan kampanye #nyaahkawalungan untuk memberi pesan kepada masyarakat agar selalu melestarikan sungai.

 

“Dan dalam waktu dekat,  5-6 Maret kita akan mengadakan kegiatan Zero Waste International Forum mengundang beberapa kota yang sudah mengelola sampahnya dengan baik untuk saling belajar dan bertukar informasi dan sebagainya,” terangnya.

 

 

KABAG HUMAS SETDA KOTA BANDUNG

 

YAYAN A. BRILLYANA

Sentra Industri Keramik Kiaracondong Mampu Suplai Kebutuhan Dalam Negeri

Diskominfo – PPID

 

Di Kota Bandung tepatnya di Kecamatan Kiaracondong terdapat sentral industri keramik yang berdiri sejak tahun 1960. Hingga saat ini, sentra keramik Kiaracondong masih tetap berproduksi.

 

Salah seorang pengrajin keramik yang masih terus bertahan yaitu Kosim Sundana (72). Ia meneruskan usaha dirintis mertuanya sejak 1960an. Kosim meneruskannya sejak tahun 1981. Telah sekitar 30 tahun lebih ia memproduksi berbagai macam keramik seperti guci, piringan hias, asbak dan kerajinan lainnya yang terbuat dari tanah liat.

 

“Kalau saya memulainya sejak tahun 81-an. Tetapi usaha ini merupakan warisan ilmu dari mertua saya yang memulainya sejak tahun 60-an. Di tempat saya banyak membuat kerajinan dari tanah liat, seperti guci, piring, hiasan dinding , asbak dan masih banyak lagi. Pokoknya saya mah tergantung ramainya pesanan saja,” ujarnya saat ditemui ditempat kerajinan keramik miliknya di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, (23/2/2018).

 

Seperti produksi keramik lainnya, proses pembuata di tempatnya juga sangat tergantung cuaca dan lamanya proses pembakaran. Kedua proses tersebut juga tergantung pada bentuk keramik yang dibuatnya.

 

“Pembuatan 1 guci besar bisa memakan waktu 2 minggu bahkan lebih. Pengrajin seperti kami ini sangat tergantung cuaca. Kalau cuacanya cerah akan lebih cepat. Kalau misalnya musim hujan seperti sekarang memakan waktu yang cukup lama dengan tempratur pembakaran 1050 derajat dalam proses pertama lalu proses kedua 800 derajat,” tuturnya.

 

Kosim berharap Industri Sentral Keramik di Kiaracondong selalu eksis. Karena sentral industri keramik merupakan warisan turun-temurun dari orang tuanya. Selain itu, bagi para pecinta keramik diharapkan lebih memilih keramik asli dalam negeri dibanding keramik hasil ekspor dari luar negeri.

 

“Saya mempunyai harapan banyak mengenai usaha ini, tergantung para konsumen lebih menonjolkan kerajinan keramik asli Indonesia. Semoga pemerintah bisa membatasi barang dari luar negeri. Sehingga barang dari dalam negeri bisa maju,” harapnya.

 

Ditemui ditempat yang berbeda, pengrajin lainnya, Yuyun Wahyudin (51) menceritakan kiprahnya di bidang industri keramik yang susah ia tekuni sejak tahun 1997.

 

“Saya sejak tahun 1997 sudah mulai membuka usaha ini , sampai saat ini alhamdullilah kami sudah bisa menyuplai ke Aceh, Medan, Lampung, Pekanbaru, Palembang, Banjarmasin, Manado dan NTT dengan omzet mencapai Rp 20 juta per bulan,” paparnya.

 

Untuk pemasarannya, Yuyun mengaku tidak mengalami kesulitan. Hal itu karena konsumennya merupakan pelanggannya sejak lama. Hal itu yang membuatnya mampu memproduksi sebanyak 75-150 keramik setiap hari dengan kisaran harga Rp 15.000 hingga Rp 1,5 juta.

 

“Untuk pemasaran, kami sudah punya pelanggan tetap. Alhamdullilah kita saling menguntungkan. Saya juga selalu menekankan kepada pengrajin untuk selalu teliti dalam proses pembuatan keramik supaya kuat dan tahan lama,” imbuhnya.

 

Sementara itu, Lurah Sukapura, Asep darojat (56) mengatakan, usaha sentral keramik sudah menjadi identitas bagi kecamatan Kiaracondong. Banyak pengrajin yang dapat mengirim ke seluruh Indonesia.

 

“Awal mula sentral keramik Kiaracondong berasal dari keluarahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong. Namun setelah kebijakan bapak camat, akan memusatkannya di kelurahan Kebon Jayanti. Saya selalu mendukung segala upaya untuk memajukan sentral industri keramik yang ada di sini,” katanya.

 

Asep berharap, industri sentral keramik Kiaracondong bisa maju dan dapat bersaing dengan produk-produk luar negeri.

 

“Jangan sampai hilang. Kita bersama-sama mempertahankanya. Karena untuk mengembangkan ciri khas suatu daerah perlu konsisten supaya terus terjaga dan bersaing dengan produk luar,” ujarnya.

 

 

KABAG HUMAS SETDA KOTA BANDUNG

 

YAYAN A. BRILLYANA

Bingung Buang Kasur, Lemari, Hingga Kulkas? Hubungi Pd Kebersihan

Diskominfo – PPID

 

PD Kebersihan Kota Bandung terus berupaya memberikan layanan prima. Tak hanya sampah biasa, kini PD Kebersihan Kota Bandung juga siap mengangkut sampah-sampah besar.

 

Bahkan, PD Kebersihan siap menjemput sampah yang akan dibuang oleh warga. Mulai dari kasur, sofa,  meja, hingga lemari.  Layanan ini telah diluncurkan sejak awal tahun ini.

 

Untuk menjemput sampah ke rumah rumah, PD Kebersihan membagi menjadi empat wilayah agar sampah bisa terangkut dengan singkat dan cepat. Keempat wilayah tersebut yaitu wilayah operasional Bandung Barat, Bandung Selatan, Bandung Utara dan Bandung Timur.

 

Direktur Utama PD Kebersihan Deni Nurdyana menjelaskan, program tersebut bertujuan agar warga disiplin dalam membuang sampah terutama sampah besar, adapun sampah besar yang biasa warga laporkan di antaranya kasur, kursi, kulkas, lemari, etalase dan televisi.

 

“Sampai hari ini sudah ada 39 warga yang membuang sampah besar, tentunya tersebar di 4 wilayah operasional yang sudah dilayani. Jika sampah besar itu sudah diambil sama petugas dengan memakai truk maka sampah tersebut dipilah. Apakah masih layak dipakai, diperbaiki atau bahkan langsung dibuang ke TPA,” tuturnya, Jumat (23/2/218).

 

Program ini salah satu program untuk mendukung Citarum Harum jadi masyarakat tidak lagi buang sampah ke sungai. Masyarakat bisa langsung memberikan sampah besarnya ke lokasi yang sudah ditentukan yaitu kantor wilayah operasional yang sudah tertera pada pengumuman atau bisa dijemput ke lokasi seperti sekarang dilakukan.

 

Lanjutnya, mengenai tarif pengambilan sampah, untuk saat ini masih gratis. Namun ke depan mungkin akan dikenakan tarif sesuai dengan jenis sampah yang dibuang.

 

“Tentunya harus didata terlebih dahulu atau kerjasama istilahnya. Setelah itu, akan dilakukan evaluasi setelah 3 bulan dan tidak menutup kemungkinan nanti dikenakan biaya khusus untuk menutupi bisya operasional,” ujarnya.

 

Ditambahkan Deni , hingga 22 Februari 2018, rekapitulasi pengangkutan sampah besar wilayah bandung barat sebanyak 5 orang, bandung selatan 12 orang, bandung utara13 orang dan bandung timur 9 orang.

 

Adapun wilayah untuk membuang sampah,  di antaranya Jalan Surapati Nomor 126, Terminal Sadang Serang nomor 10, Jalan Pasir Impun No 48 Jalan Cicukang No 12, Jalan sekelimus Barat nomor 10, Gang kina nomor 12, Jalan Pajajaran, dan Jalan Babakan Sari nomor 64. Layanan sampah besar dibuka pada setiap hari Jumat dari pukul 08.00 WIB sampai 11.00 WIB.

 

Warga tidak dipungut biaya apapun jika warga menaruh sendiri sampah besar di salah satu kantor PD Kebersihan. Teknisnya, warga hanya tinggal menghubungi PD Kebersihan lewat layanan telepon 0227207889 ataupun via Twitter @pdkebersihanbdg.

 

 

KABAG HUMAS SETDA KOTA BANDUNG

 

 

YAYAN A. BRILLYANA

Capetang, Cara Seru Tingkatkan Kemampuan Bahasa Inggris

Diskominfo – PPID

 

Sejak tahun 2013, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menggulirkan program Kamis Inggris. Di hari itu, seluruh warga Kota Bandung, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Bandung diimbau untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan warga Bandung menghadapi era global.

 

#KamisInggris dikampanyekan melalui berbagai media. Di media sosial, tagar #KamisInggris popular setiap Kamis. Pemkot Bandung pun mengimbau stasiun-stasiun radio untuk menyiarkan satu program berbahasa Inggris di hari Kamis.

 

Bagian Humas Kota Bandung pun turut ambil bagian. Sejak akhir 2017, Humas Kota Bandung menggelar program Capetang (Conversation with People in English). Kepala Bagian Humas Setda Kota Bandung Yayan A. Brillyana menggagas program tersebut dengan menggandeng Komunitas Taman Bahasa sebagai fasilitator.

 

Setiap Kamis pukul 12.30-13.30 WIB, Capetang digelar di Taman Sejarah. Sesekali, Capetang dilaksanakan di Taman Dewi Sartika atau Bandung Creative Hub. Humas Kota Bandung akan menginformasikan pelaksanaan Capetang sehari sebelumnya melalui akun media sosial @HumasBdg di Instagram, Twitter, dan Facebook.

 

Di program itu, siapapun boleh ikut, mulai dari pelajar, pensiunan, ibu rumah tangga, ASN, hingga turis yang tengah menikmati taman. Program ini tanpa dipungut biaya. Peserta boleh memanfaatkan Capetang untuk saling mengobrol dalam Bahasa Inggris.

 

Yayan menuturkan, tidak perlu berkemampuan Bahasa Inggris khusus untuk mengikuti Capetang. Syaratnya, asal punya keinginan dan minat untuk mengobrol.

 

“Yang nggak bisa Bahasa Inggris diharapkan jadi bisa. Nggak usah malu, toh semuanya juga saling belajar,” ungkap Yayan di Balai Kota Bandung, Jumat (23/2/2018).

 

Dalam beberapa kesempatan, Humas Kota Bandung menghadirkan penutur asing yang sedang berada di Bandung. Para peserta akan sangat senang menerima kehadiran mereka. Humas juga pernah bekerja sama dengan FEALAC Youth Forum yang berkantor di Bandung Creative Hub.

 

“Kami berharap program ini bisa dimanfaatkan oleh siapapun, untuk bersenang-senang dalam Bahasa inggris sehingga kemampuan Bahasa kita ikut terlatih. Kota Bandung ini disiapkan untuk menjadi kota internasional. Maka, warganya juga harus siap. Pemkot Bandung memfasilitasi dengan kegiatan ini,”ucap Yayan.

 

Hingga saat ini, sudah ada 45 orang yang rutin datang ke Capetang tiap pekan. Salah satunya adalah Ronnie Parapat (29), seorang wiraswasta yang tak pernah absen dari Capetang sejak awal program ini digelar. Ia mengaku ingin mengajar bahasa Inggris untuk semua kalangan. Untuk itu ia selalu hadir di setiap pertemuan.

 

Menurutnya, Capetang ini sangat penting untuk warga, khususnya ASN Kota Bandung. Terlebih lagi menghadapi pasar bebas ASEAN.

 

“Kegiatan Capetang dalam rangka menunjang kinerja program Pemerintah Kota Bandung dirasakan sangat perlu, mengingat Pasar Bebas Asia Tenggara (South East Free Trade Area) yang telah dimajukan waktunya lima tahun oleh Presiden Joko Widodo pada awal tahun 2016 lalu,” ujarnya.

 

Begitu pula dengan Nina Fatimah (45), seorang Ibu Rumah Tangga. Ia sempat aktif mengajar Bahasa Inggris merasa senang program ini digulirkan. Kini, ia merasa menemukan tempat untuk kembali berbicara bahasa Inggris.

 

“Yang saya senang adalah bisa sharing (berbagi) berbagai hal dengan orang-orang baru. Kadang bisa dapat insight (wawasan) yang sangat menarik dan dapat teman-teman baru dengan passion (minat) yang sama, yaitu senang bahasa Inggris. Beberapa di antaranya jadi sangat akrab seperti sudah kenal bertahun-tahun,”ujarnya.

 

Sementara itu, Gel (27) yang juga rutin mengikuti Capetang datang karena ingin meningkatkan kemampuan Bahasa Inggrisnya. Ia menuturkan, Capetang sangat menyenangkan karena bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki semangat yang sama untuk berbicara bahasa Inggris.

 

“Sejauh ini saya join (mengikuti) dengan Capetang sih sangat-sangat menyenangkan, because everybody share the same passion there (karena di sana semua orang berbagi semangat yang sama), dan juga kan membantu improve speaking skill (meningkatkan kemampuan berbicara) juga,” katanya.

 

 

 

KABAG HUMAS SETDA KOTA BANDUNG

 

 

YAYAN A. BRILLYANA

ATCS Kota Bandung Tingkatkan Kedisiplinan Berkendara

Diskominfo – PPID

 

Hampir setahun Area Traffic Control System (ATCS) Kota Bandung telah menggunakan pengeras suara untuk memberikan imbauan dan teguran langsung kepada pengguna jalan raya. Hasilnya, ternyata sangat efektif.

 

Kepala Seksi Manajemen Transortasi Dinas Perhubungan Kota Bandung Sultoni mengungkapkan, cara tersebut terbilang efektif untuk meningkatkan kedisiplinan berkendara.

 

Ia menilai, pengendara lalu lintas kini lebih tertib berkendara sebab merasa diawasi oleh 213 CCTV yang tersebar di 74 persimpangan se-Kota Bandung. Dari jumlah tersebut, 33 persimpangan telah diberi pengeras suara untuk memberikan imbauan dan teguran bagi pengguna lalu lintas.

 

“Kita sudah 60% persimpangan di seluruh Kota Bandung terpasang CCTV. Dan itu sudah terkoneksi dengan kepolisian dan Bandung Command Center,” ungkap Sultoni melalui sambungan telepon, Kamis (22/2/2018).

 

Semula, tutur Sultoni, masyarakat memang agak bingung dengan adanya pengeras suara yang memberikan teguran kepada pelanggar. Namun setelah dilakukan sosialisasi dan edukasi, masyarakat bisa lebih menerima dan lebih tertib.

 

“Tanggapan masyarakat beragam (terhadap teguran pengeras suara). Ada yang bingung, ada yang acuh tak acuh, ada juga yang menurut dan taat pada imbauan,” lanjutnya.

 

Ia juga mengakui bahwa kebijakan tersebut sempat dikeluhkan masyarakat. Alasannya karena berisik dan mengganggu. Keluhan tersebut masuk melalui sistem Layanan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR) Kota Bandung.

 

“Keluhan tersebut langsung kami respon. Titik persimpangan yang dinilai mengganggu kita evaluasi. Kalau alasannya terlalu berisik, kami turunkan volumenya. Tapi kebijakan ini harus tetap dilakukan demi ketertiban lalu lintas,” ucap Sultoni.

 

Ia juga mengevaluasi strategi edukasi dan peneguran melalui speaker ATCS, di antaranya dengan mengatur waktu pengawasan agar imbauan melalui speaker tidak mengganggu waktu-waktu aktivitas yang penting, seperti waktu ibadah.

 

“Jadi pas waktu ibadah kita non-aktif dulu. Selain itu kita juga evaluasi dari segi peneguran, kita lakukan dengan bahasa yang sopan agar tidak ada yang merasa tersinggung. Lalu bukan cuma teguran lewat suara, tapi kalau pukul 06.30 WIB, ada live Instagram. Untuk edukasi aja, yang asyik-asyik aja, kita menegurnya juga kan dengan sopan,” katanya.

 

Melalui kebijakan ini, Sultoni berharap, pelanggaran lalu lintas bisa jauh lebih berkurang dan pengendara bisa lebih tertib.

 

“Lebih jauh kami berharap justru agar pengguna kendaraan pribadi bisa beralih ke angkutan umum,” ujarnya.

 

KABAG HUMAS SETDA KOTA BANDUNG

 

YAYAN A. BRILLYANA